- Tren berbelanja barang bekas naik kelas: dari “alternatif murah” menjadi gaya hidup yang membentuk selera fashion pemuda Surabaya.
- Pusat baru thrifting makin beragam, dari kawasan legendaris sampai mall seperti Royal Plaza yang rapi dan nyaman untuk belanja santai.
- Motif utama: hemat, unik, dan semakin terkait dengan isu lingkungan serta konsumsi berkelanjutan.
- Tantangan tetap ada: ukuran tidak selalu lengkap, kondisi barang perlu dicek teliti, dan kebersihan wajib jadi prioritas.
- Ekosistem thrift shop meluas ke event kampus, bazar, dan jual-beli online—membuka peluang usaha bagi penjual kurasi dan jasa perawatan.
Di Surabaya, thrifting tidak lagi dipandang sekadar “mencari baju murah”. Ia telah berubah menjadi cara baru memaknai penampilan, uang saku, dan bahkan identitas. Di tengah arus tren global yang cepat, pemuda kota ini menemukan ruang bermain: memilih pakaian bekas yang unik, memadukannya dengan item modern, lalu tampil berbeda tanpa harus mengejar harga retail. Mall Royal Plaza, misalnya, menjadi contoh bagaimana aktivitas berburu bisa terasa lebih nyaman karena pilihan toko yang tertata dan promo yang sering muncul, sehingga pengalaman belanjanya mirip “wisata” gaya. Dalam percakapan sehari-hari, kata thrift shop sering muncul bersama istilah mix and match, capsule wardrobe, dan “kualitas impor”—tanda bahwa pasar sudah makin literat.
Perubahan sikap publik pun terasa. Jika dulu barang bekas identik dengan stigma, sekarang banyak anak muda membicarakannya sebagai pilihan cerdas: lebih hemat, lebih kreatif, dan lebih ramah lingkungan. Di balik rak-rak pakaian, ada ekonomi kecil yang bergerak—dari kurator yang memilah, penjahit yang memperbaiki, sampai content creator yang mengulas temuan. Cerita seorang mahasiswa seperti Risma (tokoh yang akan kita ikuti sepanjang artikel) menggambarkan pergeseran itu: ia datang karena budget, tetapi bertahan karena sensasi menemukan “harta karun” yang seolah dibuat khusus untuknya.
Tren thrift shop di Surabaya: dari budaya berburu ke gaya hidup pemuda
Surabaya punya sejarah panjang sebagai kota dagang, dan pola konsumsi warganya terbiasa dengan tawar-menawar serta berburu nilai terbaik. Ketika tren thrifting menguat, kebiasaan itu menemukan panggung baru: pakaian bekas berkualitas yang bisa dipakai ulang dengan tampilan tetap trendi. Bagi banyak pemuda, ini bukan hanya soal harga, melainkan tentang “cerita” di balik pakaian—jaket vintage, kemeja motif unik, atau celana jeans yang sudah memiliki karakter dari pemakaian sebelumnya. Mengapa sensasi itu begitu kuat? Karena thrifting memberi pengalaman aktif: mata memilih, tangan memeriksa, imajinasi menyusun outfit.
Risma, mahasiswa semester akhir, awalnya hanya ingin tampil beda tanpa membuat dompet menjerit. Setelah beberapa kali kunjungan, ia mulai menganggap thrifting sebagai rutinitas akhir pekan: menyisihkan waktu, menentukan anggaran, lalu masuk ke deretan toko dengan target tertentu—misalnya outer untuk kuliah atau celana untuk magang. Di momen tertentu, ia merasakan kepuasan yang sulit ditiru belanja konvensional: menemukan item yang pas, dalam kondisi bagus, dengan harga yang masuk akal. Bukankah itu sensasi yang dicari banyak orang saat belanja?
Fenomena ini berjalan seiring dengan cara Gen Z dan generasi muda mengonsumsi informasi. Mereka belajar dari video styling, thread rekomendasi, hingga artikel gaya hidup seperti bacaan tentang gaya hidup Gen Z Indonesia yang menyorot perubahan nilai: kepraktisan, pengalaman, dan kesadaran sosial. Di Surabaya, nilai itu terlihat dari cara pemuda memotret outfit thrift, mengunggah “haul”, lalu menyebut lokasi-lokasi favorit. Thrifting menjadi social currency: bukan pamer mahal, melainkan pamer selera.
Motif utama: hemat, unik, dan lebih peduli lingkungan
Ada tiga motif yang paling sering muncul ketika pemuda Surabaya membicarakan thrift shop. Pertama, hemat. Dengan anggaran bulanan terbatas, satu kali thrifting bisa menghasilkan beberapa item yang setara harga satu baju baru. Kedua, unik. Banyak koleksi secondhand tidak beredar luas, sehingga peluang “kembar outfit” lebih kecil. Ketiga, lingkungan. Semakin banyak anak muda memahami bahwa memperpanjang umur pakai tekstil adalah langkah sederhana untuk mengurangi limbah.
Namun, motif “hijau” biasanya datang belakangan. Pada Risma, misalnya, kesadaran lingkungan muncul setelah ia melihat konten tentang dampak fast fashion dan mulai menghitung: kalau ia membeli 3–5 item bekas yang masih layak, berarti ia ikut menunda produksi item baru. Insight kecil itu mengubah cara ia memilih: bukan sekadar murah, melainkan berkualitas dan tahan lama. Di titik ini, thrifting benar-benar menjadi gaya hidup, bukan tren sesaat.

Royal Plaza Surabaya sebagai magnet thrifting: pengalaman belanja yang rapi dan terkurasi
Royal Plaza dikenal sebagai salah satu lokasi yang sering disebut ketika orang membicarakan thrifting yang “nyaman”. Kuncinya ada pada pengalaman: toko-toko lebih tertata, lorong mudah diakses, dan pilihan kategori biasanya jelas—atasan, outer, denim, hingga aksesori. Bagi pemburu thrift, tata ruang yang rapi itu menghemat energi. Mereka bisa fokus pada kualitas jahitan, bahan, serta kecocokan ukuran, bukan sekadar berdesakan mencari barang.
Risma menggambarkan Royal Plaza sebagai tempat yang membuatnya betah. Ia bisa datang siang, berkeliling, mencoba beberapa item, lalu membandingkan harga antar toko. Sesekali ada bazar dan potongan harga besar yang membuat suasana makin meriah. Pada momen promo, strategi belanja pun berubah: ia menyiapkan daftar prioritas, lalu bergerak cepat mencari ukuran yang paling umum diburu. Ia menganggapnya seperti “berburu tiket konser”, tetapi versi pakaian.
Ekonomi mahasiswa: memindahkan uang belanja ke kebutuhan lain
Dampak ekonomi thrifting terasa nyata pada kelompok mahasiswa dan pekerja muda. Ketika kebutuhan gaya bertemu dengan kebutuhan bertahan hidup di kota besar, pilihan rasional menjadi penting. Risma mencontohkan: jika biasanya ia perlu satu item baru seharga ratusan ribu, di thrift shop ia bisa mendapat beberapa potong dengan total mirip. Sisa dana dialihkan untuk transport, makan, atau ditabung. Pola ini membuat thrifting bukan sekadar aktivitas impulsif, melainkan manajemen keuangan sederhana yang bisa dijalankan tanpa aplikasi rumit.
Royal Plaza juga memperlihatkan bagaimana ekosistem retail beradaptasi. Bukan cuma menjual, beberapa penjual menambah layanan: diskon bundling, rekomendasi mix and match, hingga kurasi berdasarkan tren musiman—misalnya “outer hujan”, “kemeja kerja”, atau “streetwear vintage”. Ini membuat thrifting terasa lebih dekat dengan pengalaman butik, tetapi tetap memegang daya tarik harga.
Tantangan kualitas dan kebersihan: cek detail sebelum bayar
Belanja barang bekas punya tantangan yang tidak bisa ditutup-tutupi. Ukuran tidak selalu lengkap, dan kondisi barang bisa bervariasi. Karena itu, pembeli berpengalaman biasanya punya ritual pengecekan: melihat jahitan, memeriksa noda di area kerah dan ketiak, menguji resleting, serta memastikan kancing lengkap. Risma selalu menambahkan satu kebiasaan penting: mencuci semua temuan sebelum dipakai, demi kenyamanan dan kebersihan.
Kedisiplinan kecil ini membuat pengalaman thrifting lebih aman dan memuaskan. Pada akhirnya, Royal Plaza menunjukkan bahwa tempat yang tertata dapat menurunkan friksi: pembeli lebih mudah menemukan barang, penjual bisa meningkatkan kepercayaan, dan transaksi berjalan lebih sehat. Insightnya jelas: thrifting berkembang cepat ketika pengalaman belanja dibuat semudah mungkin.
Semakin banyak orang kemudian mencari alternatif lokasi di luar mall, karena Surabaya punya jaringan toko yang menyebar dan karakter yang berbeda-beda.
Peta thrift shop Surabaya: rekomendasi lokasi, jam buka, dan kisaran harga
Di luar Royal Plaza, Surabaya memiliki banyak titik thrifting yang menjadi favorit, mulai dari area yang sudah lama dikenal seperti Gembong dan sekitar Tugu Pahlawan, hingga toko-toko kurasi di ruko dan gang strategis dekat kampus. Perkembangan ini menandakan bahwa thrift shop tidak lagi niche. Ia menjadi bagian dari peta retail kota, dengan segmen yang beragam: ada yang fokus streetwear, ada yang dominan pakaian perempuan warna-warni, ada pula yang kuat di hoodie dan sweater.
Berikut ringkasan beberapa toko yang sering direkomendasikan karena variasi produk dan akses yang relatif mudah. Data alamat, jam, dan harga berikut disajikan sebagai panduan praktis; selalu cek pembaruan media sosial toko untuk promo dan ketersediaan stok.
Nama Toko |
Area Surabaya |
Spesialisasi |
Kisaran Harga |
Jam Operasional |
|---|---|---|---|---|
Onthewear.id |
Surabaya Pusat (Jl. Jarak No.17) |
Atasan, jaket, celana; lokal & bermerek |
± Rp50 ribu–Rp100 ribu |
10.00–22.00 |
T.co |
Bratang (Jl. Bratang Gede No.89) |
Hoodie, blouse, jaket, jeans |
Mulai ± Rp35 ribu; bundling 3 pcs ± Rp100 ribu |
08.00–22.00 |
Motsi Thriftshop |
Barata Jaya (Ruko Jl. Barata Jaya No.59/A-5) |
Model unik warna-warni; ada item pria |
Bervariasi (tergantung kurasi) |
12.00–21.00 |
Tebal.id |
Wonokromo (Jl. Ngagel Rejo No.2) |
Pakaian + perlengkapan OOTD (topi, sepatu) |
Promo tertentu bisa sangat rendah; bundling khusus brand |
10.00–22.00 |
Cantolan Kastok |
Pumpungan (Jl. Pumpungan II No.31A-31B) |
Atasan pria, jaket, kemeja, celana, topi |
Bervariasi |
10.00–22.00 |
Gangbuntu Thriftstore |
Menur (Jl. Menur 3 No.61) |
Hoodie & sweater, dekat area kampus |
Bervariasi |
12.00–22.00 |
Relightstore |
Baratajaya (Jl. Baratajaya No.58) |
Wanita & pria; paket 3–5 item |
Bundling ± Rp100 ribu (tergantung kategori) |
12.00–21.00 |
Strategi memilih lokasi: kurasi vs “berburu”
Memilih tempat thrifting sebaiknya disesuaikan dengan tujuan. Jika ingin cepat dan terarah, toko kurasi biasanya lebih rapi, ukuran lebih terkelola, dan kategori jelas. Jika ingin sensasi “harta karun”, area dengan stok besar dan pergantian cepat memberi peluang lebih tinggi menemukan item langka, tetapi butuh stamina dan kesabaran. Risma membagi pendekatannya: hari biasa ia ke toko yang nyaman agar efisien; saat akhir bulan atau musim promo, ia sengaja “tour” beberapa titik untuk mengejar temuan unik.
Untuk memperkaya referensi, pemburu thrift juga kerap membaca ulasan tempat belanja dan rekomendasi komunitas. Misalnya, sebagian orang membandingkan pengalaman thrifting di berbagai lokasi Surabaya lalu menyesuaikan dengan kebutuhan outfit kerja, kuliah, atau konser. Insight akhirnya: peta thrifting Surabaya bukan satu rute, melainkan jaringan—dan setiap titik punya karakter yang bisa dipilih sesuai gaya.
Dampak sosial-budaya: thrifting mengubah cara pandang tentang fashion bekas
Perubahan paling terasa dari berkembangnya thrift shop di Surabaya adalah pergeseran stigma. Dulu, barang bekas sering diasosiasikan dengan keterpaksaan. Sekarang, banyak pemuda justru membicarakannya sebagai pilihan estetik: vintage, retro, atau “rare piece”. Pergeseran ini didorong oleh dua hal: pertama, meningkatnya literasi fashion (orang makin paham bahan, potongan, dan brand). Kedua, media sosial yang membuat gaya personal lebih dihargai daripada sekadar label harga.
Risma pernah mengalami momen kecil yang menggambarkan perubahan itu. Ia memakai blazer secondhand ke acara kampus, lalu beberapa temannya bertanya bukan “beli di mana dan mahal nggak?”, melainkan “cara padu padannya gimana?” dan “ada versi warna lain?” Pertanyaan itu menunjukkan standar baru: yang dinilai adalah selera. Ketika teman-temannya ikut mencoba thrifting dan berhasil menemukan item yang cocok, efek domino pun terjadi. Thrifting menyebar lewat bukti nyata—outfit yang terlihat bagus, bukan lewat ceramah.
Komunitas, event, dan budaya pop lokal
Di Surabaya, thrifting juga hidup lewat event: bazar pop-up di festival, acara kampus, sampai kolaborasi toko dengan kreator lokal. Format pop-up membuat stok terasa “limited” sehingga menambah excitement. Selain itu, budaya pop—musik indie, street culture, dan nostalgia 90-an—ikut mendorong pilihan outfit yang lebih berani. Kemeja motif floral, vest rajut, atau jaket varsity bekas bisa tampil relevan ketika dipadukan dengan sneakers modern.
Perubahan sosial ini punya sisi menarik: thrifting menjadi ruang interaksi lintas latar. Ada mahasiswa yang berburu, ada pekerja kreatif yang mencari costume untuk pemotretan, ada penjual yang ahli menilai kualitas kain, dan ada penjahit yang kebanjiran permintaan alter. Ekosistem kecil ini menggerakkan ekonomi informal dan keterampilan. Insightnya: di balik rak pakaian, ada jaringan relasi yang membuat kota terasa lebih hidup.
Ruang diskusi lingkungan: dari tren ke tanggung jawab
Ketika isu lingkungan makin sering dibahas, thrifting memperoleh legitimasi baru. Membeli pakaian bekas berarti memperpanjang siklus pakai, mengurangi kebutuhan produksi baru, dan menekan potensi limbah tekstil. Tentu thrifting bukan solusi tunggal, tetapi ia langkah praktis yang bisa dilakukan individu. Risma kini punya aturan: jika membeli item baru, ia menimbang apakah benar dibutuhkan dan apakah ada alternatif secondhand yang setara. Kebiasaan kecil ini membuat konsumsi lebih sadar.
Di sinilah thrifting mengubah budaya belanja. Orang mulai bertanya: “Apakah aku membeli karena butuh, atau karena ikut tren?” Pertanyaan sederhana itu menjadi filter yang menjaga dompet sekaligus menumbuhkan tanggung jawab sosial. Dan ketika pertanyaan itu menyebar, perubahan gaya hidup menjadi lebih dari sekadar penampilan.
Setelah memahami dampaknya, langkah berikutnya adalah praktik: bagaimana belanja thrift dengan aman, higienis, dan tetap stylish.

Panduan belanja thrift di Surabaya: cara cerdas memilih, merawat, dan styling agar tetap modern
Berhasil thrifting bukan soal keberuntungan semata. Ada metode yang bisa membuat hasil belanja lebih konsisten, terutama bagi pemula yang sering pulang dengan barang “murah tapi tidak kepakai”. Risma mengaku dulu ia tergoda harga, lalu menumpuk pakaian yang ternyata sulit dipadukan. Setelah beberapa kali evaluasi, ia membuat sistem sederhana: tentukan kebutuhan, cek bahan, dan pikirkan minimal tiga cara pakai sebelum membeli. Jika tidak bisa membayangkan tiga kombinasi, ia tinggalkan—meski diskonnya besar.
Checklist kualitas: lihat, raba, dan uji fungsi
Pemeriksaan kualitas sebaiknya dilakukan cepat tapi teliti. Banyak barang thrift sebenarnya masih sangat layak, tetapi ada juga yang memerlukan perbaikan kecil. Berikut checklist yang sering dipakai pemburu berpengalaman:
- Jahitan: cek bagian bahu, ketiak, dan sisi dalam untuk memastikan tidak ada robekan halus.
- Noda: periksa area kerah, manset, dan bagian depan dekat kancing.
- Resleting dan kancing: tarik resleting naik-turun, hitung kancing, pastikan tidak longgar.
- Bahan: raba tekstur; bahan terlalu tipis kadang cepat melar.
- Ukuran: jangan terpaku label; coba atau ukur dengan patokan pakaian yang sudah pas di rumah.
Checklist ini membuat keputusan belanja lebih rasional. Saat pemuda Surabaya makin paham kualitas, penjual pun terdorong meningkatkan kurasi—dan itu memperkuat ekosistem thrift shop secara keseluruhan.
Kebersihan dan perawatan: langkah wajib setelah membeli pakaian bekas
Sesampainya di rumah, proses perawatan menentukan apakah temuan thrift nyaman dipakai. Risma memulai dengan memisahkan berdasarkan jenis bahan, lalu merendam singkat dengan deterjen lembut. Untuk item tertentu seperti jaket, ia memilih cuci tangan agar bentuknya tidak rusak. Setelah kering, ia setrika dengan suhu sesuai bahan dan simpan di tempat yang tidak lembap. Langkah-langkah ini terdengar sederhana, tetapi membuat pakaian bekas terasa seperti baru.
Jika menemukan noda membandel, solusi tidak selalu harus mahal. Kadang cukup dengan sabun khusus noda atau baking soda, lalu bilas bersih. Untuk barang yang butuh penyesuaian ukuran, jasa alter lokal bisa mengubah potongan agar lebih modern. Hasilnya: item secondhand bisa naik kelas dan terlihat personal.
Styling modern: menggabungkan vintage dan tren 2026 tanpa terlihat “kostum”
Tantangan terbesar thrifting adalah styling. Item vintage bisa terlihat terlalu jadul jika dipakai mentah-mentah. Trik yang sering dipakai adalah menggabungkan satu statement piece thrift dengan item basic modern. Contohnya: blazer bekas dipasangkan dengan kaos polos dan sneakers bersih; kemeja motif dipakai sebagai outer di atas tank top netral; atau jeans vintage dipadukan dengan atasan minimalis. Prinsipnya: satu yang “ramai”, sisanya menenangkan.
Risma juga memanfaatkan aksesori untuk menutup gap era. Topi, tas selempang, atau sepatu yang lebih kontemporer membantu outfit tetap relevan. Dengan pendekatan ini, belanja thrift tidak berhenti di kasir—ia berlanjut menjadi proses kreatif yang membuat pemuda Surabaya semakin percaya diri. Untuk inspirasi visual, banyak orang mencari referensi video gaya secondhand dan cara kurasi lemari pakaian.
Ketika kebiasaan memilih, merawat, dan memadukan sudah terbentuk, thrifting tidak lagi terasa seperti eksperimen. Ia menjadi rutinitas fashion yang hemat, relevan, dan punya dampak sosial—sebuah kebiasaan kecil yang terus mendorong tren thrift shop berkembang di Surabaya.