En bref
- Pemerintah Daerah di berbagai kabupaten di Lombok menguatkan Pariwisata Berbasis Desa sebagai strategi pemerataan manfaat wisata.
- Kolaborasi BUMN dan swasta makin terlihat, termasuk model “port tourism” yang menghubungkan pelabuhan, desa pesisir, dan produk wisata harian.
- Penguatan Community Empowerment dilakukan lewat pelatihan keuangan, tata kelola BUMDes, UMK, serta digitalisasi promosi.
- Isu utama 2026: mendorong wisatawan yang hanya singgah di Gili agar juga belanja pengalaman di daratan, sehingga Ekonomi Lokal lebih tersebar.
- Penjagaan Budaya Lokal dan alam diposisikan sebagai fondasi Sustainable Tourism, bukan sekadar pelengkap promosi.
Di Lombok, percakapan tentang pariwisata tidak lagi berhenti pada jumlah kunjungan. Yang kian menonjol adalah pertanyaan tentang siapa yang diuntungkan, bagaimana dampaknya pada ruang hidup warga, dan apa yang bisa diwariskan pada generasi berikutnya. Dalam lanskap itu, Pemerintah Daerah mendorong Pengembangan destinasi yang bertumpu pada desa—mulai dari pantai dan perbukitan, hingga kampung-kampung yang kuat tradisi. Arah ini terasa relevan di 2026 ketika wisatawan semakin mencari pengalaman yang “dekat” dengan manusia: tinggal di homestay, ikut panen, belajar menenun, atau berjalan bersama pemandu lokal yang bercerita tentang sejarah kampungnya.
Model Pariwisata Berbasis Desa di Lombok juga mendapat energi baru dari kolaborasi lintas aktor. Peresmian Desa Wisata Senteluk di Lombok Barat sebagai desa binaan memperlihatkan bagaimana perusahaan pelabuhan mengaitkan layanan kapal pesiar dengan penguatan destinasi sekitar. Di sisi lain, Lombok Utara meluncurkan kampanye desa wisata untuk mengajak warga dan pemerintah desa bergerak serempak, sekaligus menata promosi agar wisatawan tidak hanya terkonsentrasi di tiga Gili. Di tengah kompetisi destinasi nasional, Lombok menempuh jalur yang lebih membumi: menjadikan desa sebagai panggung utama, bukan sekadar latar belakang.
Pemerintah Daerah di Lombok dan arah kebijakan Pengembangan Pariwisata Berbasis Desa
Ketika Pemerintah Daerah di Lombok berbicara tentang pariwisata hari ini, fokusnya semakin nyata pada “nilai tinggal” (length of stay) dan “nilai belanja” (spending) yang terserap di kampung-kampung. Kuncinya ada pada Pengembangan produk wisata yang mudah diakses, punya cerita, dan dapat dikelola warga. Strategi ini menjawab dua tantangan sekaligus: ketimpangan manfaat ekonomi yang sering hanya menumpuk di titik populer, serta kebutuhan menjaga daya dukung lingkungan agar Lombok tidak mengalami “over-tourism” di lokasi tertentu.
Di banyak rapat koordinasi daerah, desa wisata diposisikan sebagai unit yang paling lincah untuk mengemas pengalaman. Pemerintah kabupaten dapat menetapkan standar minimum—misalnya kebersihan, keamanan, dan keterbacaan informasi—namun eksekusinya diserahkan pada komunitas. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan Community Empowerment: warga bukan penonton, melainkan pemilik keputusan. Dalam praktiknya, perangkat daerah pariwisata biasanya berkolaborasi dengan dinas pemberdayaan masyarakat desa, koperasi/UMKM, dan pihak keamanan setempat agar satu paket kebijakan berjalan serempak.
Contoh konkret terlihat dari cara pemerintah mengarahkan desa untuk membangun “rantai nilai” wisata, bukan hanya spot foto. Rantai nilai berarti ada aktivitas sebelum, saat, dan setelah kunjungan: reservasi homestay, pemandu lokal, workshop kerajinan, kuliner, transportasi desa, hingga penjualan produk pascakunjungan lewat kanal digital. Di sini, peran BUMDes dan UMK menjadi pengungkit. Pelatihan tata kelola BUMDes—mulai dari penyusunan laporan keuangan, pembukuan sederhana, sampai transparansi—bukan lagi sekadar administrasi, melainkan syarat untuk menarik kemitraan dan mengurangi konflik internal.
Kerangka regulasi juga makin penting karena desa wisata bersentuhan dengan ruang hidup warga. Pembatasan jam kegiatan di area tertentu, pengelolaan sampah berbasis sumber, dan standar bangunan yang tidak merusak lanskap menjadi diskusi rutin. Pembelajaran dari daerah lain ikut memengaruhi kebijakan, misalnya pembicaraan tentang penataan destinasi dan aturan usaha wisata yang sering dibahas dalam konteks wilayah tetangga. Banyak pelaku pariwisata Lombok membaca rujukan seperti regulasi pariwisata di Bali untuk memahami bagaimana aturan dapat melindungi budaya sekaligus menjaga kualitas layanan.
Di lapangan, narasi “desa” juga dipertajam agar tidak menjadi label semata. Desa yang menonjol biasanya punya kurasi tema: desa madu, desa tenun, desa pesisir, desa agro, atau desa budaya. Kurasi ini membantu promosi dan memudahkan wisatawan memilih. Di sisi promosi, pemerintah daerah mulai memanfaatkan momentum pameran inovasi perkotaan-desa, digitalisasi layanan, serta literasi data. Diskusi tentang teknologi yang lebih adaptif dapat dipantik dari event seperti Smart City Expo Jakarta, terutama terkait tiket digital, manajemen antrean, hingga pemetaan potensi desa.
Pada akhirnya, arah kebijakan yang paling terasa adalah pergeseran indikator sukses: bukan hanya ramai, melainkan berdaya. Ketika desa mampu menetapkan harga wajar, mengelola arus pengunjung, dan menegakkan aturan lokal, maka pariwisata tidak menggerus identitas, tetapi memperkuatnya—sebuah pijakan penting menuju Sustainable Tourism.

Studi kasus Desa Wisata Senteluk: port tourism, kolaborasi BUMN, dan dampak Ekonomi Lokal
Peresmian Desa Wisata Senteluk di Kecamatan Batu Layar, Lombok Barat, sebagai desa binaan memperlihatkan model kolaborasi yang menarik: pariwisata desa disambungkan dengan ekosistem pelabuhan dan kunjungan kapal pesiar. Dalam logika “port tourism”, pelabuhan bukan hanya titik transit, tetapi pintu masuk pengalaman harian yang mengalir ke kampung-kampung sekitar. Senteluk menjadi contoh bagaimana destinasi kecil bisa naik kelas ketika ada jembatan yang jelas antara arus wisatawan dan kesiapan produk lokal.
Dalam kerja sama yang ditandai penandatanganan prasasti desa binaan dan Nota Kesepahaman (MoU) dengan pemerintah setempat, dukungan tidak berhenti pada seremoni. Program tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan diarahkan pada tiga pilar yang sering jadi titik lemah desa wisata: kapasitas manusia, infrastruktur dasar, dan promosi. Penguatan ini penting karena desa kerap punya daya tarik alam, tetapi kalah pada detail layanan seperti toilet umum, papan informasi, serta pengelolaan pembayaran dan pembukuan.
Di Senteluk, rangkaian pelatihan menyasar hal yang sangat praktis: pembuatan laporan keuangan, tata kelola BUMDes, dan manajemen UMK. Ini terlihat sederhana, tetapi efeknya besar. Ketika pelaku kuliner memahami margin, pencatatan stok, dan arus kas, mereka berani menerima pesanan grup atau paket tur. Ketika BUMDes punya laporan rapi, desa lebih dipercaya untuk mengelola parkir terpadu, sewa fasilitas, hingga kerja sama event. Dari sinilah Ekonomi Lokal bergerak lebih stabil, bukan hanya musiman.
Dukungan fisik juga diarahkan untuk meningkatkan kenyamanan dan “keterlihatan” destinasi: pembangunan gapura, pengembangan spot foto di Bukit Monceq, serta renovasi toilet umum. Infrastruktur ini bukan sekadar kosmetik. Gapura memberi penanda identitas, spot foto menjadi alat promosi organik, sedangkan toilet yang bersih adalah indikator kualitas layanan yang paling cepat diingat wisatawan. Banyak destinasi kehilangan peluang hanya karena aspek ini diabaikan.
Senteluk juga mengembangkan edu-wisata madu Trigona dan digitalisasi desa: penguatan website, media sosial, serta pembaruan Tourist Information Center. Di 2026, digitalisasi bukan lagi pilihan. Wisatawan ingin melihat rute, harga, jam operasional, dan cara booking sebelum datang. Referensi tentang dinamika kunjungan dan kebutuhan akomodasi juga sering dibicarakan dalam ekosistem lokal, misalnya melalui bahasan seperti tren hotel Lombok dan kunjungan wisata yang menunjukkan pentingnya integrasi desa dengan rantai pasok pariwisata yang lebih luas.
Agar lebih terukur, Senteluk dapat memetakan dampak dengan indikator sederhana yang disepakati warga. Tabel berikut memberi contoh kerangka pemantauan yang realistis untuk desa wisata yang sedang bertumbuh.
Komponen |
Contoh Intervensi |
Indikator Dampak |
Manfaat Langsung bagi Warga |
|---|---|---|---|
SDM & Tata Kelola |
Pelatihan pembukuan UMK dan BUMDes |
Laporan keuangan bulanan; kepatuhan kas |
Harga lebih sehat; usaha lebih tahan musim sepi |
Infrastruktur |
Renovasi toilet, gapura, penataan spot foto |
Skor kepuasan pengunjung; durasi tinggal |
Peluang kerja lokal; peningkatan transaksi |
Produk Wisata |
Edu-wisata madu Trigona |
Jumlah paket belajar; penjualan produk turunan |
Nilai tambah komoditas; regenerasi peternak lebah |
Digitalisasi & Promosi |
Website desa, media sosial, TIC aktif |
Booking online; pertanyaan masuk per minggu |
Pasar lebih luas; biaya promosi lebih efisien |
Senteluk memberi pelajaran bahwa kolaborasi yang paling efektif adalah yang menyentuh detail operasional. Ketika desa mampu mengikat pengalaman wisata dengan sistem pengelolaan yang rapi, maka “port tourism” berubah menjadi arus manfaat yang benar-benar terasa di rumah-rumah warga.
Untuk melihat konteks audio-visual tentang dinamika desa wisata dan praktik baik pengelolaan, banyak pihak juga merujuk video liputan dan dokumenter lapangan.
Kampanye Desa Wisata Lombok Utara: menggeser arus wisata dari Gili ke daratan
Lombok Utara memiliki magnet besar: tiga Gili yang sudah mendunia. Namun kekuatan itu membawa dilema—wisatawan datang, tetapi banyak yang tidak menyentuh daratan lebih jauh. Karena itu, kampanye desa wisata yang digelar di Pantai Sira, Desa Sigar Penjalin, menjadi sinyal bahwa Pemerintah Daerah ingin memecah konsentrasi kunjungan dan membuka jalur belanja baru di luar kawasan pulau kecil. Dalam satu hari yang sama, agenda kampanye juga menyatukan desa-desa yang ingin mendaftar sebagai desa wisata, mempertemukan Pokdarwis, serta memperkuat mesin promosi daerah.
Yang menarik, kampanye tersebut tidak hanya bicara promosi, tetapi juga “kebersamaan lintas generasi, etnis, dan budaya” sebagai pondasi pembangunan. Kalimat semacam ini sering terdengar normatif, tetapi di pariwisata desa justru sangat operasional. Homestay yang dikelola keluarga, paket tur yang dipandu anak muda, serta ritual adat yang dijaga tetua kampung membutuhkan ruang dialog agar tidak saling mendominasi. Ketika generasi muda bergerak cepat di media sosial, sementara generasi tua menjaga batas-batas sakral, desa perlu “aturan main” yang disepakati bersama.
Data sosial yang menguatkan adalah tumbuhnya lebih dari 75 Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di wilayah tersebut, bahkan melampaui jumlah desa. Ini menggambarkan antusiasme, sekaligus tantangan koordinasi. Pokdarwis yang sangat banyak berpotensi membuat promosi terpecah dan standar layanan tidak seragam. Karena itu, peran dinas pariwisata biasanya bergeser menjadi kurator dan fasilitator: menyatukan kalender event, membantu paket lintas desa, dan menetapkan standar dasar agar pengalaman wisata tidak timpang antar lokasi.
Di sisi ekonomi, target yang paling nyata adalah memperpanjang rute wisatawan. Jika sebelumnya wisatawan hanya menghabiskan uang untuk transport ke Gili, sewa alat snorkeling, dan makan di titik tertentu, maka kampanye desa wisata mengundang mereka untuk menikmati kebun, air terjun, kuliner kampung, hingga kelas kerajinan. Tantangan utamanya adalah “produk perantara”: wisatawan perlu alasan kuat untuk turun ke darat di sela jadwal ke pulau. Solusinya sering berupa paket 4–6 jam yang rapi, dengan titik jemput jelas, harga transparan, dan pengalaman yang tidak “dipaksakan”.
Di 2026, perubahan gaya hidup generasi muda juga memengaruhi pola perjalanan. Banyak wisatawan—terutama Gen Z—mencari pengalaman yang bisa dibagikan tetapi tetap bermakna, seperti kelas memasak atau aktivitas konservasi ringan. Diskusi tentang preferensi generasi ini bisa dipahami dari bacaan seperti gaya hidup Gen Z Indonesia, lalu diterjemahkan desa menjadi produk yang tidak kehilangan ruh. Di saat yang sama, tren kebugaran dan pemulihan diri mendorong desa menyiapkan jalur jalan kaki, wisata sunyi, hingga menu sehat berbasis bahan lokal. Inspirasi yang selaras dapat muncul dari rujukan seperti lifestyle sehat dan wellness, tentu dengan adaptasi pada kearifan setempat.
Untuk membuat kampanye tidak hanya ramai di awal, desa memerlukan daftar kerja yang jelas dan mudah dipantau. Berikut contoh prioritas operasional yang sering dipakai tim penggerak desa wisata di Lombok Utara.
- Menentukan tema desa (agro, budaya, pesisir, edukasi) agar promosi fokus dan tidak “semua ada”.
- Menyusun paket singkat yang kompatibel dengan jadwal wisata Gili, lengkap dengan durasi dan titik temu.
- Melatih pemandu muda untuk storytelling dan etika layanan, agar narasi Budaya Lokal tersampaikan elegan.
- Membangun sistem reservasi sederhana via pesan instan/website, termasuk format konfirmasi dan pembatalan.
- Mengatur kebersihan dan sampah berbasis sumber—ini sering jadi penentu ulasan wisatawan.
Pergeseran arus wisata dari Gili ke daratan tidak akan terjadi lewat poster semata. Ia lahir dari paket yang nyaman, cerita yang kuat, serta konsistensi layanan—dan kampanye desa wisata adalah pintu masuk untuk menyatukan semuanya.
Untuk memahami strategi promosi dan packaging desa wisata yang efektif, liputan video dan tutorial dari praktisi pariwisata komunitas bisa menjadi rujukan.
Budaya Lokal sebagai produk utama: dari identitas Sasak hingga etika komersialisasi
Di Lombok, Budaya Lokal bukan aksesori. Ia adalah struktur yang mengatur cara orang menyambut tamu, mengelola ruang, hingga menentukan mana yang boleh dipertontonkan dan mana yang sebaiknya tetap privat. Karena itu, Pariwisata Berbasis Desa yang sehat harus memposisikan budaya sebagai “produk utama” sekaligus “batas etis”. Banyak desa menginginkan pemasukan, tetapi tidak ingin ritus adat berubah menjadi tontonan tanpa makna. Pertanyaannya: bagaimana menyeimbangkan keduanya?
Salah satu praktik baik adalah membedakan “atraksi edukatif” dan “ritus sakral”. Atraksi edukatif bisa berupa kelas menenun, belajar musik tradisional, tur arsitektur rumah, atau demo memasak. Kegiatan ini dapat dijadwalkan, diberi tarif, dan didokumentasikan dengan izin. Sebaliknya, ritus sakral biasanya memiliki aturan waktu, busana, dan perilaku; dokumentasi bisa dibatasi. Ketegasan batas ini justru meningkatkan rasa hormat wisatawan. Banyak pelancong modern lebih menghargai destinasi yang punya aturan jelas daripada destinasi yang membiarkan semuanya bebas.
Ambil contoh cerita fiktif namun realistis: Lale, pemuda pemandu di sebuah desa budaya, pernah menerima rombongan yang memaksa masuk ke area upacara keluarga karena “sudah bayar paket”. Konflik hampir terjadi. Setelah itu, desa menyusun SOP: paket budaya dibagi dua—“tur edukasi” dan “observasi upacara publik”—dengan penjelasan tertulis. Dampaknya terasa: ulasan wisatawan membaik karena mereka merasa dipandu memahami konteks, bukan sekadar “melihat sesuatu yang eksotis”. Ini bentuk Community Empowerment yang nyata: komunitas berdaulat menentukan cara bercerita tentang dirinya.
Penguatan budaya juga bisa disambungkan dengan ekonomi kreatif tanpa mengorbankan nilai. Misalnya, motif tenun bisa dikembangkan menjadi produk turunan (tas, selendang, aksesoris) namun tetap mencantumkan asal motif dan nama perajin. Di sini, transparansi menjadi alat pelindung. Ketika wisatawan tahu siapa pembuatnya dan berapa lama prosesnya, mereka lebih siap membayar harga yang adil. Ini langsung memengaruhi Ekonomi Lokal karena nilai tambah tidak hilang di perantara.
Bagian yang sering terlupakan adalah pengelolaan ekspektasi wisatawan. Banyak konflik kecil muncul karena wisatawan menganggap desa adalah “tempat hiburan” yang bisa diatur sesuka hati: memotret anak-anak tanpa izin, menawar berlebihan, atau protes karena suara ayam saat pagi. Desa yang matang akan memasukkan etika kunjungan dalam briefing singkat, ditempel di titik informasi, dan diulang oleh pemandu. Satu paragraf etika bisa menyelamatkan hubungan jangka panjang.
Budaya juga terkait dengan manajemen event. Lombok sering mengadakan festival atau perayaan akhir tahun yang menarik massa. Namun, ketika ada pembatalan atau perubahan agenda besar di luar daerah, efek rambatnya bisa terasa pada arus wisata Nusantara. Cara media membahas dinamika semacam ini, misalnya dalam artikel pembatalan kembang api di Sumatra, memberi pelajaran bahwa kalender acara harus punya rencana cadangan, komunikasi yang cepat, dan koordinasi keamanan. Desa wisata bisa meniru prinsipnya: jika event budaya batal karena cuaca atau alasan adat, sediakan alternatif seperti tur kuliner, workshop kerajinan, atau jelajah alam.
Pada akhirnya, budaya yang diperlakukan dengan hormat justru menjadi keunggulan kompetitif. Ketika desa mampu mengemas pengalaman yang otentik, transparan, dan etis, wisatawan pulang membawa cerita—dan cerita itulah mata uang promosi paling kuat.

Sustainable Tourism di desa-desa Lombok: tata kelola lingkungan, pembiayaan, dan digitalisasi yang membumi
Mendorong Sustainable Tourism di Lombok bukan sekadar menanam pohon lalu memotret. Isunya jauh lebih teknis: bagaimana desa mengelola sampah harian ketika kunjungan naik, bagaimana air bersih dibagi adil antara kebutuhan warga dan kebutuhan usaha wisata, serta bagaimana ruang terbuka tidak habis oleh bangunan baru. Di banyak desa, keberlanjutan dimulai dari keputusan kecil yang konsisten—dan justru itu yang paling sulit tanpa tata kelola yang kuat.
Pertama, pengelolaan sampah. Desa wisata yang tumbuh cepat sering kewalahan karena pola konsumsi wisatawan berbeda: botol plastik, kemasan makanan, dan sisa acara. Solusi yang realistis biasanya menggabungkan tiga hal: pemilahan di sumber (homestay, warung, titik kumpul), jadwal angkut yang jelas, dan kerja sama dengan bank sampah/pengepul. Beberapa desa di Lombok mulai menetapkan “biaya kebersihan” yang masuk ke kas pengelola, bukan pungutan liar. Transparansi dipajang di papan informasi: berapa terkumpul, dipakai untuk apa. Ketika uang kebersihan terlihat manfaatnya—misalnya tong sampah baru, gerobak angkut, atau honor petugas—warga lebih rela disiplin.
Kedua, air dan energi. Homestay dan kafe kecil sering memakai pompa listrik lebih besar saat musim ramai. Jika tidak diatur, tagihan melonjak dan sumur warga menurun. Pendekatan yang banyak dipakai adalah standar operasional: jam penggunaan mesin tertentu, edukasi hemat air untuk tamu, dan peralatan sederhana seperti aerator kran. Sebagian desa mulai menghitung “kapasitas layanan” bukan dari luas lahan, tetapi dari ketersediaan air dan kemampuan pengolahan limbah. Ini bukan anti-pertumbuhan; ini strategi agar pertumbuhan tidak memakan modal alam.
Ketiga, pembiayaan Pengembangan. Desa sering tergoda membangun banyak fasilitas sekaligus. Padahal yang dibutuhkan adalah urutan yang cerdas: perbaiki toilet, siapkan jalur akses, latih pemandu, baru tambah spot kreatif. Pembiayaan dapat memadukan dana desa, kemitraan perusahaan, tiket/paket, serta kontribusi sukarela saat event. Namun, kunci keberlanjutan finansial adalah pencatatan. Pengalaman desa binaan seperti Senteluk menunjukkan bahwa pelatihan laporan keuangan bukan pekerjaan kantor; ia menjadi “sabuk pengaman” agar konflik internal berkurang dan keputusan investasi lebih rasional.
Keempat, digitalisasi yang membumi. Banyak desa punya akun media sosial, tetapi tidak punya sistem layanan: siapa membalas pesan, format jawaban, cara mencatat booking, dan bagaimana menangani pembatalan. Padahal, pengalaman pelanggan dimulai dari chat pertama. Desa bisa membuat template sederhana untuk tiga skenario: tanya harga, tanya rute, dan tanya ketersediaan. Kalender ketersediaan homestay bisa dibuat di spreadsheet bersama. Hal-hal kecil ini meningkatkan kepercayaan wisatawan. Sekaligus, digitalisasi membantu desa membaca data: paket mana yang laku, jam kunjungan favorit, dan produk apa yang paling sering dicari.
Dalam konteks pemasaran, desa juga perlu menyambungkan diri dengan ekosistem yang lebih luas: agen perjalanan, hotel, operator transportasi, hingga komunitas minat khusus seperti pejalan kaki atau pecinta kuliner. Integrasi semacam ini membuat desa tidak bergantung pada satu kanal. Ketika satu pasar melemah, pasar lain bisa menutup celah. Ini alasan mengapa diskusi tentang arus kunjungan dan jaringan akomodasi Lombok menjadi relevan dibaca pelaku desa, misalnya melalui analisis seputar hotel dan tren kunjungan yang membantu desa menyelaraskan paket dengan musim.
Yang paling menentukan adalah memastikan keberlanjutan menjadi identitas, bukan proyek. Jika desa konsisten menegakkan aturan kebersihan, membatasi area rapuh, dan mengutamakan pemasok lokal untuk konsumsi wisata, maka pariwisata akan menjadi mesin belajar bersama. Pada titik itu, desa tidak hanya “menjual pemandangan”, melainkan membangun masa depan yang lebih tertata—sebuah arah yang selaras dengan dorongan Pemerintah Daerah di Lombok untuk pariwisata yang adil dan tahan lama.